Populer

Selasa, 27 Januari 2015

FILOSOFI LILIN



Teman saya pernah menasihati seorang sahabatnya dengan menggunakan filosofi sebuah lilin. Katanya, jangan menjadi lilin, dia menerangi sekelilingnya tapi dia sendiri terbakar habis. Namun bagi saya itu salah.
Kesalahan pertama, dia lupa pelajaran IPA, hehe. Dalam Ilmu Pengetahuan Alam, ada pelajaran tentang perubahan bentuk. Lilin jika dipanaskan akan mencair, tapi kemudian membeku lagi. Jadi, sesungguhnya lilin itu tidak benar-benar terbakar, hanya berubah bentuk, yang terbakar hanya sumbunya saja. So, belilah lilin yang besar supaya awet dan tahan lama, yang ketika dinyalakan yang meleleh hanya tengahnya, tapi setelah padam dia akan membeku lagi, dengan begitu lebih ngirit hehe.
Kesalahan kedua, kalaupun lilin itu terbakar meleleh dan padam, bukan berarti lilin itu tak pernah menyala lagi. Anda bisa menampungnya dalam wadah dan memberinya sumbu lagi, maka masih bisa digunakan lagi. Lagi pula, sejatinya tidak ada cahaya yang abadi di dunia ini, sekalipun itu matahari.
Kesalahan ketiga, siapa bilang lilin itu tidak memberi manfaat? Meski hanya sebentar menerangi sekeliling kemudian padam, paling tidak dia bermanfaat untuk sekitarnya. Begitupula hidup manusia, sepahit apapun hidup itu, sependek atau sepanjang apapun hidup kita, biarkan umur kita bermanfaat, apapun caranya.
Apakah anda menemukan kesalahan lain dalam filosofi tersebut?

NB: Selalu mencari celah bagi rasa syukur

Jumat, 12 September 2014

SEMU



Kebaikan tak selamanya bersambut baik
Pun dalam mempertahankan sesuatu..demi dan demi...
Yang bersuara menjadi tumbal bagi kebisuan
Yang bungkam mengharapkan aman dari kericuhan
Mereka yang adil tersingkirkan
Yang maju adalah yang mencari keuntungan dalam hitungan 
Namun semuanya takkan bertahan lama
Ada yang lebih berkuasa menguasai panggung sandiwara
Semua akan terbongkar tanpa harus dibuka
Terlihat oleh telinga dan terdengar oleh mata

Sabtu, 23 Agustus 2014

Kau kah?

Senang, cemburu, marah, sedih, tersenyum, rindu
Inikah yang dinamakan cinta?
Cinta oh cinta sungguh engkau melelahkan
Ingin kulepaskan namun tak berkuasa
Karena engkau milikNya
Terkadang merasa punya tapi sebenernya tidak
Atau....
Merasa tidak punya padahal sebenernya melikinya
Apapun itu, saat aku memulai mencinta
Semoga cinta itu semata-mata karena Engkau
Wahai Sang Pencinta

 

Senin, 14 Juli 2014

Kamu...

Hei kamu....
Iya kamu.....

Tahukah kau....
Bahwa ada tangan yang menengadah setiap saat...
Bahwa ada air mata yang terurai setelah bersujud....
Bahwa ada perut yang kosong ketika hati bergejolak....
Bahwa ada lantunan ayat suci ketika cemburu melanda....
Hanya karena dia mencintaimu...

Ah....kau tidak pernah tahu...
Karena hanya Dia yang Maha Memelihara Cinta
Ya Rahman Ya Rahim Ya Wadud


Jumat, 13 Juni 2014

DILEMA

Setiap saat setiap detik aku terganggu
Terganggu oleh rasa cemburu
Terganggu karena ketidak tahuanku
Dan terganggu oleh segala prasangkaku

Sungguh aku tak mau berburuk sangka
Tapi aku cemburu, cemburu oleh prasangkaku

Kenapa sepertinya sia-sia
Walaupun sebenarnya tidak

Aku sudah tak bisa lagi mengendalikannya
Sudah terlalu lelah
Ingin berhenti namun tak mampu
Ingin berlanjut namun tak berkuasa
Aku harus bagaimana?

"Bertaqwalah Kepada Allah"

Senin, 21 Oktober 2013

Ingin Dimengerti




Minggu pagi, seorang anak berumur 18 bulan yang belum sempurna bicaranya terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Barangkali rindu pada Om-nya yang nun jauh disana dia memanggil-manggil namanya, “Om….Om….Om…”
Ibunya bingung, Om siapa yang dimaksud, karena akhir-akhir ini dia juga sering memanggil-manggil tetangga barunya dengan sebutan Om.
“Om Ipin atau Om Nanang?”
“Uh…uh…” sambil bergeleng sang anak berusaha menjelaskan apa yang dia maksud
“Om Nanang?” ibunya bertanya seraya menegaskan siapa yang dimaksud, dia pun mengangguk.
Karena faham dengan rasa rindunya sang ibu menelfon om-nya yang jauh di pulau seberang. Beberapa kali dihubungi tak jua terjawab.
“Om, ga bias ditelfon dek,,telfon bapak aja ya?”. Sang ibu member pilihan karena melihat wajah anaknya yang penuh penantian. Sang anak pun mengangguk.
Titut..titut..titut...nomor pun dipencet, tersambung.
“Assalamu’alaikum”. Sang Bapak yang tak ada di rumah karena bertugas di kota yang berbeda pun menyapa.
“wA’alaikumussalam” jawab Ibu. “Dek,,Bapak dek”
“Alow…Bapak?”
“Adek bangun tidur?”
“Iya Pak”, seloroh sang ibu.
“Bapak…Awoh…Awoh”. Maksud hati sang anak berkata Alloh,,Alloh,,meminta untuk mengumandangkan sholawat. Karena akhir-akhir ini kegemarannya adalah melantunkan sholawat.
“Ouw…Alloh?? Adek nyanyi?”
“Awoh..Bapak…Awoh”
Sang bapak bingung.
“Mas, disuruh sholawatan sama adek”, seloroh ibunya menjelaskan. Sang bapak hanya tertawa ringan tapi tak mau juga bersholawat, sementara sang anak sudah tidak sabar untuk mendengar lantunan sholawat. Sang ibu pun menengahi dengan mengatakan…
“Adek, Bapak ga bias sholawat. Ibu saja yang nyanyi ya…”
“Whuaa….”teriak sang anak sambil menangis dengan keras.

Hmmmm….aku tidak mengerti dengan tangisan sang anak. Ada 3 kemungkinan disini:
1.      Kecewa karena Bapaknya “dianggap” tidak bias bersholawat
2.      Kecewa karena Bapaknya tidak mau bersholawat, atau
3.      Kecewa hanya karena tidak ada yang mau bersholawat untuknya?
Dia hanya ingin dimengerti ^_^

(GNS 20102013)

Selasa, 27 November 2012

UNTUKMU



Dalam sujudku…
Terselip doa untukmu
Nafas ini…
Bibir ini…
Air mata ini…
Memintanya untukmu
Aku..tak peduli
Apakah dalam nafasmu terucap doa untukku
Aku juga tak peduli
Apakah dalam hatimu tersimpan harapan untukku
Karena rasa ini tulus
Harapan ini jujur
Kupintakan semuanya untukmu
Seperti malaikat memintanya untukku
Dalam setiap doa-doaku