Teman saya pernah
menasihati seorang sahabatnya dengan menggunakan filosofi sebuah lilin. Katanya,
jangan menjadi lilin, dia menerangi sekelilingnya tapi dia sendiri terbakar
habis. Namun bagi saya itu salah.
Kesalahan pertama, dia
lupa pelajaran IPA, hehe. Dalam Ilmu Pengetahuan Alam, ada pelajaran tentang
perubahan bentuk. Lilin jika dipanaskan akan mencair, tapi kemudian membeku
lagi. Jadi, sesungguhnya lilin itu tidak benar-benar terbakar, hanya berubah
bentuk, yang terbakar hanya sumbunya saja. So, belilah lilin yang besar supaya
awet dan tahan lama, yang ketika dinyalakan yang meleleh hanya tengahnya, tapi
setelah padam dia akan membeku lagi, dengan begitu lebih ngirit hehe.
Kesalahan kedua, kalaupun
lilin itu terbakar meleleh dan padam, bukan berarti lilin itu tak pernah
menyala lagi. Anda bisa menampungnya dalam wadah dan memberinya sumbu lagi,
maka masih bisa digunakan lagi. Lagi pula, sejatinya tidak ada cahaya yang
abadi di dunia ini, sekalipun itu matahari.
Kesalahan ketiga, siapa
bilang lilin itu tidak memberi manfaat? Meski hanya sebentar menerangi
sekeliling kemudian padam, paling tidak dia bermanfaat untuk sekitarnya. Begitupula
hidup manusia, sepahit apapun hidup itu, sependek atau sepanjang apapun hidup
kita, biarkan umur kita bermanfaat, apapun caranya.
Apakah anda menemukan
kesalahan lain dalam filosofi tersebut?
NB: Selalu mencari celah bagi
rasa syukur