Populer

Selasa, 27 Januari 2015

FILOSOFI LILIN



Teman saya pernah menasihati seorang sahabatnya dengan menggunakan filosofi sebuah lilin. Katanya, jangan menjadi lilin, dia menerangi sekelilingnya tapi dia sendiri terbakar habis. Namun bagi saya itu salah.
Kesalahan pertama, dia lupa pelajaran IPA, hehe. Dalam Ilmu Pengetahuan Alam, ada pelajaran tentang perubahan bentuk. Lilin jika dipanaskan akan mencair, tapi kemudian membeku lagi. Jadi, sesungguhnya lilin itu tidak benar-benar terbakar, hanya berubah bentuk, yang terbakar hanya sumbunya saja. So, belilah lilin yang besar supaya awet dan tahan lama, yang ketika dinyalakan yang meleleh hanya tengahnya, tapi setelah padam dia akan membeku lagi, dengan begitu lebih ngirit hehe.
Kesalahan kedua, kalaupun lilin itu terbakar meleleh dan padam, bukan berarti lilin itu tak pernah menyala lagi. Anda bisa menampungnya dalam wadah dan memberinya sumbu lagi, maka masih bisa digunakan lagi. Lagi pula, sejatinya tidak ada cahaya yang abadi di dunia ini, sekalipun itu matahari.
Kesalahan ketiga, siapa bilang lilin itu tidak memberi manfaat? Meski hanya sebentar menerangi sekeliling kemudian padam, paling tidak dia bermanfaat untuk sekitarnya. Begitupula hidup manusia, sepahit apapun hidup itu, sependek atau sepanjang apapun hidup kita, biarkan umur kita bermanfaat, apapun caranya.
Apakah anda menemukan kesalahan lain dalam filosofi tersebut?

NB: Selalu mencari celah bagi rasa syukur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar