RAME-RAME
NYONTEK
Prihatin rasanya
melihat tayangan di televisi yang memperlihatkan tayangan menyontek sewaktu
ujian nasional. Yang menjadi pertanyaan besar adalah sebenarnya ujian nasional
ini menjadi ketakutan para murid atau ketakutan para guru? Menyontek
rasa-rasanya sudah membudaya dikalangan anak sekolah, bahkan sepertinya tidak
afdhol apabila ujian dilakukan tanpa menyontek. Kalau sudah seperti ini
masihkan angka menjadi sebuah patokan untuk menilai kecerdasan?
Seandainya saja angka
tidak menjadi ukuran untuk menilai kecerdasan seseorang, barangkali para siswa
itu tidak akan repot-repot menyontek untuk mengejar nilai yang tinggi. Dan
barangkali apabila angka juga tidak menjadi ukuran untuk sebuah kelulusan tentu
guru-guru juga tidak akan takut muridnya mempunyai nilai yang sedikit. Lalu
menjadi salah siapakah semua ini?
Kecerdasan itu beraneka
ragam seperti yang kita kenal dengan Multiple Inteligent. Seseorang bisa saja
lemah dalam logika matematika tapi dia cerdas dalam bahasa, bisa jadi lemah
dalam bahasa dan logika matematika, tapi dia pandai dalam kinestetik, atau yang
lainnya. Tidak sepantasnya kita menganggap bodoh seorang anak yang nilai
matematikanya 5 tapi olahraganya 9, karena memang dia cerdas dalam kinestetik. Kalau
semua anak yang nilai mata pelajaran eksaknya rendah kita anggap bodoh, maka
tidak akan lahir olahragawan, seniman, budayawan, sastrawan dan para
orang-orang hebat lainnya. Lalu masih menjadi pentingkah sebuah anggka untuk
menentukan kecerdasan?
YA, angka merupakan hal
penting bagi orang lain untuk melihat kecerdasan seseorang tanpa perlu kita
mengenalnya. Tapi yang terpenting adalah menanamkan
kepada anak bahwa kecerdasan itu jauh lebih penting dari sekedar angka. Hal
inilah yang sebenarnya perlu dipahami oleh banyak orangtua. Terkadang kita
sebagai orangtua telah salah mengambil langkah dan atau menilai kecerdasan
seorang anak. Sebagai contoh, ketika kita melihat nilai dalam rapot anak kita,
apa yang kita perhatikan? Tentu adalah besaran angka dalam setiap mata
pelajaran. Tapi kebanyakan dari orangtua justru mengambil langkah yang salah
dengan memberikan stimulasi tambahan (les/bimbel/dll) pada nilai-niali yang
kurang. Misalnya saja, orangtua memberikan bimbingan privat untuk anaknya
karena nilai matematikanya 6, padahal nilai bahasanya 9. Kenapa kecerdasan yang
tidak cukup justru dipaksakan kepada anak? Bukankah dia mempunyai kemungkinan
yang lebih besar untuk menjadi seorang ahli bahasa apabila kelebiahnnya itu
yang justru distimulasi. Barangkali anak tersebut akan menguasai 3 bahasa asing
atau lebih krena kecerdasannya itu.
Menstimulasi
kecerdasan yang dimiliki bukan berarti mengesampingkan kemampuan lainnya yang
kurang. Biarkan mereka belajar sesuai dengan kemampuannya, karena sesuatu yang
dipaksakan hasilnya tidak akan bertahan lama. Kunci terpenting dalam belajar adalah sebuah kesenangan. Karena
dalam keadaan senang, relaks, otak manusia akan lebih mudah menyerap dan
menyimpan berbagai macam informasi. Jadi, tugas kita sebagai orang tua ataupun
pengajar adalah menciptakan cara belajar yang menyenangkan. Ketika informasi
sudah masuk ke dalam otak, kita hanya butuh sedikit waktu untuk membangkitkanya
kembali, sehingga tidak perlu ada cara belajar sistem kebut semalam, dan ujian
pun tidak akan menjadi hal yang menakutkan bagi para siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar