Populer

Senin, 09 April 2012

KUNING


RAME-RAME NYONTEK


            Prihatin rasanya melihat tayangan di televisi yang memperlihatkan tayangan menyontek sewaktu ujian nasional. Yang menjadi pertanyaan besar adalah sebenarnya ujian nasional ini menjadi ketakutan para murid atau ketakutan para guru? Menyontek rasa-rasanya sudah membudaya dikalangan anak sekolah, bahkan sepertinya tidak afdhol apabila ujian dilakukan tanpa menyontek. Kalau sudah seperti ini masihkan angka menjadi sebuah patokan untuk menilai kecerdasan?
Seandainya saja angka tidak menjadi ukuran untuk menilai kecerdasan seseorang, barangkali para siswa itu tidak akan repot-repot menyontek untuk mengejar nilai yang tinggi. Dan barangkali apabila angka juga tidak menjadi ukuran untuk sebuah kelulusan tentu guru-guru juga tidak akan takut muridnya mempunyai nilai yang sedikit. Lalu menjadi salah siapakah semua ini?
Kecerdasan itu beraneka ragam seperti yang kita kenal dengan Multiple Inteligent. Seseorang bisa saja lemah dalam logika matematika tapi dia cerdas dalam bahasa, bisa jadi lemah dalam bahasa dan logika matematika, tapi dia pandai dalam kinestetik, atau yang lainnya. Tidak sepantasnya kita menganggap bodoh seorang anak yang nilai matematikanya 5 tapi olahraganya 9, karena memang dia cerdas dalam kinestetik. Kalau semua anak yang nilai mata pelajaran eksaknya rendah kita anggap bodoh, maka tidak akan lahir olahragawan, seniman, budayawan, sastrawan dan para orang-orang hebat lainnya. Lalu masih menjadi pentingkah sebuah anggka untuk menentukan kecerdasan?
YA, angka merupakan hal penting bagi orang lain untuk melihat kecerdasan seseorang tanpa perlu kita mengenalnya. Tapi yang terpenting adalah menanamkan kepada anak bahwa kecerdasan itu jauh lebih penting dari sekedar angka. Hal inilah yang sebenarnya perlu dipahami oleh banyak orangtua. Terkadang kita sebagai orangtua telah salah mengambil langkah dan atau menilai kecerdasan seorang anak. Sebagai contoh, ketika kita melihat nilai dalam rapot anak kita, apa yang kita perhatikan? Tentu adalah besaran angka dalam setiap mata pelajaran. Tapi kebanyakan dari orangtua justru mengambil langkah yang salah dengan memberikan stimulasi tambahan (les/bimbel/dll) pada nilai-niali yang kurang. Misalnya saja, orangtua memberikan bimbingan privat untuk anaknya karena nilai matematikanya 6, padahal nilai bahasanya 9. Kenapa kecerdasan yang tidak cukup justru dipaksakan kepada anak? Bukankah dia mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk menjadi seorang ahli bahasa apabila kelebiahnnya itu yang justru distimulasi. Barangkali anak tersebut akan menguasai 3 bahasa asing atau lebih krena kecerdasannya itu.
            Menstimulasi kecerdasan yang dimiliki bukan berarti mengesampingkan kemampuan lainnya yang kurang. Biarkan mereka belajar sesuai dengan kemampuannya, karena sesuatu yang dipaksakan hasilnya tidak akan bertahan lama. Kunci terpenting dalam belajar adalah sebuah kesenangan. Karena dalam keadaan senang, relaks, otak manusia akan lebih mudah menyerap dan menyimpan berbagai macam informasi. Jadi, tugas kita sebagai orang tua ataupun pengajar adalah menciptakan cara belajar yang menyenangkan. Ketika informasi sudah masuk ke dalam otak, kita hanya butuh sedikit waktu untuk membangkitkanya kembali, sehingga tidak perlu ada cara belajar sistem kebut semalam, dan ujian pun tidak akan menjadi hal yang menakutkan bagi para siswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar