Populer

Selasa, 27 November 2012

UNTUKMU



Dalam sujudku…
Terselip doa untukmu
Nafas ini…
Bibir ini…
Air mata ini…
Memintanya untukmu
Aku..tak peduli
Apakah dalam nafasmu terucap doa untukku
Aku juga tak peduli
Apakah dalam hatimu tersimpan harapan untukku
Karena rasa ini tulus
Harapan ini jujur
Kupintakan semuanya untukmu
Seperti malaikat memintanya untukku
Dalam setiap doa-doaku

Senin, 24 September 2012

LOVE


No body smart when in love…
Cinta itu melumpuhkan logika,,


Ya,,,memang benar.
Karena cinta itu tidak datang dalam pikiran manusia yang lantas membuat manusia itu pintar, cinta itu tidak membutuhkan logika, karena cinta itu datangnya di kalbu, bukan dalam otak walaupun mungkin ketika cinta hadir seluruh sel dalam tubuh akan terkontaminasi. Cinta yang sesungguhnya itu milikNYA. Dia yang membolak-balikkan kalbu manusia, dia yang menghadirkan cinta dalam setiap kalbu manusia. Seberapa besar kapasitasnya itu tergantung seberapa besar kebaikannya. Tidak ada orang yang berakhlak baik yang cintanya hanya sebagai ranjau untuk menjerat mangsa. Orang yang baik cintanya selalu tulus. Jika lantas tidak berjodoh, itu karena ketulusannya tidak setingkat dengan orang yang dicintainya. Karena sesungguhnya orang yang baik akan mendapatkan yang jodoh yang baik, dan orang yang buruk akan mendapatkan jodoh yang buruk. Tuhan sudah menyediakan banyak jodoh untuk kita dari mulai yang buruk sampai yang baik. Tinggal waktunya saja, saat waktu itu tiba kita sebenernya sedang menjadi orang yang buruk atau orang yang baik? Untuk itu marilah kita terus memperbaiki diri supaya ketika waktunya tiba, yang terbaik itulah yang Dia pilihkan untuk kita. Caiyo ^_^

Kamis, 05 Juli 2012

SOPIR ANGKOT



            Tiada hari tanpa naik angkot, itulah hidupku. Bukan karena tidak punya motor, tapi karena memang tidak bisa naik motor. Sebenarnya kadang-kadang terfikir juga untuk bisa naik motor sendiri, sehingga tidak perlu menyusahkan orang lain untuk mengantar jemput ketika membutuhkannya. Tapi aku pikir, tidak ada salahnya juga kalau kita tiap hari berbagi rizki dengan para sopir angkot yang kian hari kian sepi.
Naik motor atau naik angkutan kota alias angkot sama saja, dua-duanya punya seni tersendiri. Tetapi karena tiap hari naiknya angkot, kali ini aku akan bercerita tentang seni naik angkutan kota. Tidak percaya angkutan kota punya seni?
Sejak SMP sampai sekarang, kira-kira 15 tahun lebih aku menggunakan angkutan kota. Dari yang tarifnya Rp. 300,00 sampai sekarang menjadi Rp. 2.500,00. Barangkali sekarang pun saling menghafal, sopirnya sampai menghafalku dan akupun juga sebagian menghafal mereka. Bukan hanya itu, tukang ojek pun sampai hafal karena aku terbiasa turun, menunggu jemputan atau bahkan menunggu angkot yang ngetem di pangkalan ojek. Bahkan beberapa penumpang pun saling mengafal. Beberapa orang menghafalku, tapi entah kenapa aku susah untuk menghafal mereka, barangkali karena aku cenderung agak cuek, atau karena wajahku yang terlalu familiar ya? Itulah seni yang pertama.
Sore itu aku pulang kuliah, usai presentasi sehingga membawa ransel besar yang isinya netbook. Tidak biasanya, karena kerja sambil kuliah biasanya hanya membawa tas jinjing yang tidak tertalu kecil juga tidak terlalu besar. Kali itu angkotnya kosong, hanya ada aku dan pak supir. Seraya menunggu penumpang yang lain, terjadilah sebuah percakapan.
“Baru pulang kuliah mbak?”
“Eh, iya pak.”
“Kuliah di UND**?”
“Iya”
“Mbaknya sudah semester berapa?”
“Saya semester 3 pak.”
“Ooo.. Anak saya juga kuliah di UND** jurusan peternakan. Tiap hari uang setoran selalu saya tabung Rp. 5.000,00 - Rp. 10.000,- untuk kuliah anak saya. Ga makan juga ga apa-apa mbak yang penting anak saya bisa sekolah. Alhamdulillah kemaren diterima”
“Syukur pak, bapak putranya berapa?”
“Dua mbak, perempuan semua, yang satu masih SMA. Mbaknya ngambil jurusan apa?”
“Saya peternakan juga pak.”
“Wah...sama seperti anak saya. Barangkali mbaknya kenal, anak saya namanya Dian Retnowati (haduh aku lupa namanya, anggap saja itu ya), tapi kok kampusnya diatas ya, mbaknya kok dibawah?”
“Hehe iya pak, saya kebetulan ambil S2-nya”.
“Ooo...”
Hehe, dikira aku masih S1, terlalu tua untuk saya Bapak, ini saja sudah pernah off 2 tahun lebih, masak masih seperti S1? Tapi sejak itulah beliau menghafal aku, begitu juga denganku.
            Suatu pagi, ketika aku akan berangkat bekerja dan seperti biasa naik angkot, aku bertemu dengan sang bapak lagi.
“Mbak”, beliau menyapaku. Dan akupun tersenyum.
“Pagi kuliahnya mbak?”
“Saya kerja kok pak”.
“Ouw, kerja di mana mbak?”
“Di belakang POLDA pak”
“Apa itu mbak?”
“Sekolah pak, aya ngajar kok pak”
“Ouw, mbaknya guru to”
“Iya”
“Wah, ga apa-apa mbak. Jaman sekarang cari kerjaan yang sesuai susah. Kalau terlalu pilah-pilih nanti malah ga kerja-kerja.”
“Iya pak”
“Yang penting menjalaninya dengan ikhlas”
“Iya pak”
            Hmm, memang semuanya harus dijalani dengan ikhlas. Jadi teringat sejarahnya untuk menjadi pengajar. Sebenarnya tidak ada niatan sama sekali untuk menjadi pengajar kecuali menjadi dosen. Tapi apadaya aku cuma lulusan S1. Dan ternyata memang semua sudah diatur oleh yang Maha Kuasa. Ikhlas, itulah kuncinya. Barangkali kalau aku tidak menjadi pengajar aku juga tidak akan punya kesempatan untuk belajar S2, atau barangkali aku harus melepaskan salah satu diantaranya. Pesan orang tua dulu waktu mencari pekerjaan adalah kerja itu ibadah, jadi lakukan yang terbaik, hasilnya serahkan pada yang memberi rizki, kareana sebaik-baik penghargaan adalah dariNya.

------*------

            Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB. Malam itu ada tausiah ustad Yusuf di Gedung Borobudur. Aku dan ibu berniat untuk menghadirinya. Sebenarnya sedikit terlambat karena dimulai sebelum maghrib. Dan karena aku sudah hafal dengan jam-jamnya, maka sengaja datang agak terlambat karena pasti ada keterlambatan tausiah pula. Hanya karena tidak mau tertinggal sholat isya’ berjamaah kami agak sedikit terburu-buru.
“Bu, mau naik apa biar cepet sampai? Kalo naik taxi nanti lama kalo nunggu di jalan. Kalau pesan dulu sama aja lama, sudah jam segini”.
“Ya sudah, naik angkot saja tapi jangan yang ngetem”.
“Kalo gitu nunggu angkotnya jalan dikit jangan di perempatan. Nanti jalan lagi ga apa-apa?”
“Ga apa-apa, kurang lebih cuma 20m aja kan?”
“Iya”
“Ah sudah terbiasa jalan”
“Ya sudah”
“Itu ada angkot lewat”.
Ehhh, ternyata si bapak yang sudah saling menghafal.
“Malem-malem mbak?”
“Iya pak”
“Mau kemana?”
“Ke gedung borobudur”
“Ooo...yang tausiah itu ya? Rame mbak, kok baru berangkat? Saya anter ke gedungnya sekalian aja mbak.”
Alhamdulillah...kebetulan angkotnya kosong, cuma ada aku sama ibu, langsung tancap dah. Tarif angkutan kota, fasilitas serasa taxi karena diantar ke tempat tujuan tanpa harus meminta. Hmm, beginilah seni naik angkot.

-----*-----

            Tidak hanya hal-hal yang serba kebetulan, terkadang para sopir angkot itu justru menceritakan masalah pribadinya pada penumpang. Entah bermaksud curhat atau hanya untuk mencari simpati. Walllahu’alam.
            Ada yang menjadi sopir angkot di kotaku karena dia kawin lari. Karena calonnya tidak mendapat persetujuan dari orang tua dia memilih meninggalkan kotanya Palembang untuk ke jawa dan akhirnya menjadi sopir angkot. Dalam hati aku berfikir, pantas penggunaan Bahasa Indonesianya fasih dan tidak bisa berbahasa jawa walaupun mengerti jika orang lain berbahasa jawa. Mungkin karena sudah beberapa tahun tinggal di jawa. Ada juga yang merantau dari sunda.
            Terkadang mereka menceritakan bagaimana sepinya penumpang yang lebih memilih naik kendaraan bermotor ketimbang angkot, menceritakan bagaimana susahnya menutup setoran, atau saling berbagi jika ada yang mau sewa angkot. Ada juga yang bercerita tentang jam kerjanya. Ada yang berangkat dini hari, siang pulang istirahat dan berangkat lagi saat jam-jam orang selesai bekerja. Ternyata mereka juga punya strategi untuk mendapatkan penumpang. Ada yang menghafal jamnya, tujuannya, bahkan berusaha untuk ngobrol dan mengenal penumpang hanya untuk membuat mereka nyaman. Tapi ada juga yang terkesan sedikit licik, tapi mungkin lebih tepatnya sedikit memprovokasi, dengan memberitahu kepada penumpang untuk tidak menaiki angkot yang itu karena ngetemnya lama banget, atau karena dia sering maju mundur dalam mencari penumpang, dan lain-lain. Tapi sebenarnya apa yang dikatakannya memang benar sih, karena beberapakali menaiki angkot yang disebutkan itu memang seperti apa yang dikatakannya.
            Akhir-akhir ini aku mendapat satu hafalan lagi tentang sopir angkot, karena sebelumnya seperti tidak pernah melihatnya. Mungkin karena saat itu aku berangkat kerja agak kesiangan. Jam-jam yang tidak biasanya. Seperti biasa, hanya dengan ngobrol basa-basi akhirnya dia menghafalku. Dan karena angkotnya tanpa ngetem alias cepat, aku putuskan untuk berangkat pada jam-jam itu.
            Beberapa hari aku libur kerja, dia mencariku. Siang itu, masih dalam rangka liburan aku berangkat siang berniat untuk ke kantor karena terkena jatah piket libur.
“Mbak, kok lama ga lihat?”
“Libur kok pak”, jawabku memberi penjerlasan singkat.
“Ouw, saya pikir apa mbaknya diantar pacarnya kok ga pernah naik angkot lagi”
Aku hanya tersenyum.
“Saya tungguin lho mbak, sampai saya muter dua kali kok mbaknya ga pernah keliatan. Ternyata libur to. Lha ini mau kemana?”
“Sama pak, ke gergaji”.
“Katanya libur mbak?”
“Iya, cuma hari ini masuknya kok, ada perlu”.
“Ouw. Tunggu sebentar ya mbak, nungguin mbaknya yang biasa kerja di swalayan. Ga keburu to?”
“Enggak pak, ga apa-apa”.
Sambil menungggu si bapak berusaha mencairkan suasana dengan mengajak ngobrol.
“Wah, lagi musim libur sekolah ya mbak. Hari ini ramai karena pendaftaran sekolah. Mbaknya enak belum punya anak, saya single parent mbak.”
“Ouw..”
“Anak saya dua mbak, perempuan semua. Yang satu kelas 4 SD yang satu masih kelas 1 SD. Kalau kakanya pinter mbak, bisa sekolah di SD negeri, kalau adeknya di swasta mbak, kalau kenaikan kelas gini harus bayar lagi. Repot mbak jadi single parent, istri saya selingkuh. Sudah punya anak dua masak ya masih harus saya pertahankan, saya bercerai mbak.”
“Astaghfirullah..”
Percakapan kami terhenti karena penumpang yang biasa turun di UIN naik ke dalam angkot, dia mahasiswi, tapi tidak pernah tersenyum ketika diajak ngobrol, sampai-sampai ketika dia turun supirnya berkata, “Mbaknya itu besok galak”, mungkin maksudnya kalau sudah menikah dia galak pada suaminya atau pada anak-anaknya. Karena sudah ditunggu sekitar 5 menit tidak kunjung muncul penumpang yang diharapkan, angkot itu langsung berjalan. Dia mengutamakan service untuk penumpang yang ada di angkotnya, yaitu kecepatan.
            Hari itu aku seperti mendapat pelajaran berharga, yaitu rasa syukur. Kalau Dia menghendaki kebaikan kepada kita pasti Dia akan mendekatkan kita pada hal-hal yang baik. Dan aku bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang baik. Bayangkan saja, bagaimana upaya mereka dalam mempertahankan iman dan takwa apabila kehidupan mereka dekat dengan hal-hal yang dibenci Tuhan. Mabuk, perselingkuhan, judi, barangkali cukup dekat dengan kehidupan mereka walau tidak semuanya demikian. Hidup di jalanan, yang terkadang hanya untuk mempertahankan shalat 5 waktu saja susah. Jangankan shalat, hanya sekedar wudhu saja mungkin tidak pernah dilakukan. Kadang-kadang bahkan aku sampai berfikir, ni orang pernah mandi atau mencuci rambutnya ga ya? Kenapa tidak ada cahaya sama sekali di wajahnya? Terimakasih Ya Rabb, dekatkan kami selalu pada kebaikan, karena yang dekat dengan penjual parfum pasti akan ikut tercium harumnya.

Sabtu, 26 Mei 2012

Terimakasih…..



Terimakasih,,
Mengenalmu aku belajar banyak hal
Belajar untuk bertoleransi,
Belajar untuk bernegosiasi,
Belajar untuk mencintai,
Belajar untuk menekan ego,
Dan belajar untuk menerima bahwa kau mungkin tidak sesuai dengan apa yang kuharapkan tapi yang kubutuhkan
Untuk saat itu….
Untuk saat itu....

Terimakasih juga,,
Atas semua perlakuanmu
Karena aku masih belajar banyak hal
Belajar untuk memaafkan,
Belajar untuk tidak membenci,
Belajar untuk tidak mendendam,
Belajar untuk bersabar,
Belajar untuk ikhlas,
Belajar untuk menata hati,
Belajar untuk menahan diri,
Belajar untuk mengubah pola pikir,
Dan belajar untuk bisa menerima kembali sebagai suatu hal yang mungkin telah menjadi ketetapanNya

Ternyata,,memang semua ini telah menjadi rencanaNya
Dia pertemukan aku denganmu dengan segala hal yang menyenangkan maupun yang menyakitkan supaya aku belajar tentang banyak hal

Terimakasih….
Terimakasih untuk semuanya Ya Rabb

Senin, 14 Mei 2012

White

LOVE IS RESPECT

Ya, kata-kata itu sungguh ampuh. Pak Mario benar, bahwa cinta itu adalah sebuah penghormatan. Ketika kita mencintai seseorang sudah selayaknya kita menghormatinya, menghargai pendapatnya, menghormati perasaannya bahkan sampai pada tempat dimana kita harus memaafkan kesalahannya. 

Dan cinta itu luas, bukan hanya terhadap manusia. Pun ketika kita mengaku mencintai Tuhan kita, sudahkah kita memberikan penghormatan yang layak kepadaNYA ?? 

Bagaimana mungkin orang yang mengaku mencintai motornya tapi tidak pernah merawatnya? Ah, saya tidak yakin. Kalau seseorang mencintai motornya pasti akan dirawat sangat baik, dari sekedar dilap kalau kotor sampai servis rutin setiap bulan, atau bahkan lebih. Begitu pula seharusnya rasa cinta kita terhadap yang lainnya.

Ketika kita mengaku mencintai lingkungan, sudahkah kita menjaganya dengan baik? Masihkah kita membuang sampah sembarangan? Atau hanya sekedar menyingkirkan batu ditengah jalan? Lingkungan telah memberikan banyak hal kepada kita, tapi apa yang kita berikan kepada lingkungan?

Dan bagaimana kalau anda mengaku mencintai uang anda? Akankah diatur dengan baik? Ya. Disimpan? Tentu. Dan tempat penyimpanan terbaik adalah dengan diamalkan. Begitu juga dengan ilmu, kalau kita mencintai ilmu, kita tidak hanya terus dan terus belajar, tapi pasti ingin juga ilmu ini dimiliki dan dimanfaatkan oleh banyak orang. 

Love is respect, cinta itu adalah penghormatan, yang ketika kita memilikinya maka akan mengindahkan dunia...

Minggu, 29 April 2012

ORANGE


Teh (Camellia sinensis) di Indonesia


         Teh sebagai bahan minuman penyegar dan menyehatkan merupakan salah satu komoditi unggulan perkebunan Indonesia. Areal teh Indonesia seluas 157.000 ha terdiri atas 54% perkebunan rakyat, 24% perkebunan besar negara, dan 22% perkebunan besar swasta. Saat ini Indonesia merupakan negara penghasil teh nomor 6 terbesar di dunia dan menguasai 6% pasar teh dunia. Negara penghasil teh lainnya adalah Vietnam (7%), India (13%), Kenya dan Srilanka (masing-masing 20%) (Anonim2, 2008). 
         Sebagai salah satu negara penghasil teh terbesar, kosumsi teh di Indonesia masih tergolong rendah. Idealnya setiap orang mengkonsumsi minimal 125mg katekin per hari, yang diperoleh dari 5g teh hijau. Konsumsi teh hijau Indonesia hanya 350g/kapita/tahun, kurang dari 1g per hari (Rohdiana, 2006). Sumber lain menyatakan bahwa tingkat konsumsi masyarakat baru sekitar 400 gram per kapita per tahun, padahal di Turki sudah mencapai 3 kilogram per kapita per tahun, hal ini menyebabkan perkebunan teh di Indonesia sulit berkembang. Rendahnya tingkat konsumsi ini disinyalir disebabkan karena masyarakat lebih tertarik pada minuman jenis lain yang dikemas secara menarik (Kompas, 2006).
         Berdasarkan proses pengolahannya, teh diklasifikasikan kedalam 3 jenis yaitu teh fermentasi (teh hitam), teh semifermentasi (teh oolong), dan teh tanpa fermentasi (teh hijau) (Fernandez et al., 2002). Tanaman teh yang dibudidayakan di Indonesia hampir 100% merupakan varietas assamica dimana kandungan katekin pada pucuk tanaman teh varietas assamica lebih banyak dibandingkan varietas sinensis, namun demikian varietas sinensis memiliki aroma yang lebih baik karena memiliki kandungan asam amino lebih tinggi. Pucuk teh yang dihasilkan di Indonesia 80% diolah menjadi teh hitam, sedangkan sisanya diolah menjadi teh hijau. Teh hitam lebih sedikit mengandung katekin daripada teh hijau karena dalam proses pengolahan teh hitam dirancang agar katekin mengalami oksidasi untuk memperbaiki warna, rasa, dan aromanya. Berdasarkan hasil penelitian, teh di Indonesia mempunyai keunggulan dibanding teh di negara lain karena mengandung katekin yang merupakan komponen aktif untuk kesehatan     1, 34 kali lebih tinggi daripada teh dari negara lain (Herawati, 2008).

Senin, 09 April 2012

KUNING


RAME-RAME NYONTEK


            Prihatin rasanya melihat tayangan di televisi yang memperlihatkan tayangan menyontek sewaktu ujian nasional. Yang menjadi pertanyaan besar adalah sebenarnya ujian nasional ini menjadi ketakutan para murid atau ketakutan para guru? Menyontek rasa-rasanya sudah membudaya dikalangan anak sekolah, bahkan sepertinya tidak afdhol apabila ujian dilakukan tanpa menyontek. Kalau sudah seperti ini masihkan angka menjadi sebuah patokan untuk menilai kecerdasan?
Seandainya saja angka tidak menjadi ukuran untuk menilai kecerdasan seseorang, barangkali para siswa itu tidak akan repot-repot menyontek untuk mengejar nilai yang tinggi. Dan barangkali apabila angka juga tidak menjadi ukuran untuk sebuah kelulusan tentu guru-guru juga tidak akan takut muridnya mempunyai nilai yang sedikit. Lalu menjadi salah siapakah semua ini?
Kecerdasan itu beraneka ragam seperti yang kita kenal dengan Multiple Inteligent. Seseorang bisa saja lemah dalam logika matematika tapi dia cerdas dalam bahasa, bisa jadi lemah dalam bahasa dan logika matematika, tapi dia pandai dalam kinestetik, atau yang lainnya. Tidak sepantasnya kita menganggap bodoh seorang anak yang nilai matematikanya 5 tapi olahraganya 9, karena memang dia cerdas dalam kinestetik. Kalau semua anak yang nilai mata pelajaran eksaknya rendah kita anggap bodoh, maka tidak akan lahir olahragawan, seniman, budayawan, sastrawan dan para orang-orang hebat lainnya. Lalu masih menjadi pentingkah sebuah anggka untuk menentukan kecerdasan?
YA, angka merupakan hal penting bagi orang lain untuk melihat kecerdasan seseorang tanpa perlu kita mengenalnya. Tapi yang terpenting adalah menanamkan kepada anak bahwa kecerdasan itu jauh lebih penting dari sekedar angka. Hal inilah yang sebenarnya perlu dipahami oleh banyak orangtua. Terkadang kita sebagai orangtua telah salah mengambil langkah dan atau menilai kecerdasan seorang anak. Sebagai contoh, ketika kita melihat nilai dalam rapot anak kita, apa yang kita perhatikan? Tentu adalah besaran angka dalam setiap mata pelajaran. Tapi kebanyakan dari orangtua justru mengambil langkah yang salah dengan memberikan stimulasi tambahan (les/bimbel/dll) pada nilai-niali yang kurang. Misalnya saja, orangtua memberikan bimbingan privat untuk anaknya karena nilai matematikanya 6, padahal nilai bahasanya 9. Kenapa kecerdasan yang tidak cukup justru dipaksakan kepada anak? Bukankah dia mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk menjadi seorang ahli bahasa apabila kelebiahnnya itu yang justru distimulasi. Barangkali anak tersebut akan menguasai 3 bahasa asing atau lebih krena kecerdasannya itu.
            Menstimulasi kecerdasan yang dimiliki bukan berarti mengesampingkan kemampuan lainnya yang kurang. Biarkan mereka belajar sesuai dengan kemampuannya, karena sesuatu yang dipaksakan hasilnya tidak akan bertahan lama. Kunci terpenting dalam belajar adalah sebuah kesenangan. Karena dalam keadaan senang, relaks, otak manusia akan lebih mudah menyerap dan menyimpan berbagai macam informasi. Jadi, tugas kita sebagai orang tua ataupun pengajar adalah menciptakan cara belajar yang menyenangkan. Ketika informasi sudah masuk ke dalam otak, kita hanya butuh sedikit waktu untuk membangkitkanya kembali, sehingga tidak perlu ada cara belajar sistem kebut semalam, dan ujian pun tidak akan menjadi hal yang menakutkan bagi para siswa.