Tiada
hari tanpa naik angkot, itulah hidupku. Bukan karena tidak punya motor, tapi
karena memang tidak bisa naik motor. Sebenarnya kadang-kadang terfikir juga
untuk bisa naik motor sendiri, sehingga tidak perlu menyusahkan orang lain
untuk mengantar jemput ketika membutuhkannya. Tapi aku pikir, tidak ada
salahnya juga kalau kita tiap hari berbagi rizki dengan para sopir angkot yang
kian hari kian sepi.
Naik motor atau naik
angkutan kota alias angkot sama saja, dua-duanya punya seni tersendiri. Tetapi
karena tiap hari naiknya angkot, kali ini aku akan bercerita tentang seni naik
angkutan kota. Tidak percaya angkutan kota punya seni?
Sejak SMP sampai
sekarang, kira-kira 15 tahun lebih aku menggunakan angkutan kota. Dari yang
tarifnya Rp. 300,00 sampai sekarang menjadi Rp. 2.500,00. Barangkali sekarang
pun saling menghafal, sopirnya sampai menghafalku dan akupun juga sebagian
menghafal mereka. Bukan hanya itu, tukang ojek pun sampai hafal karena aku
terbiasa turun, menunggu jemputan atau bahkan menunggu angkot yang ngetem di
pangkalan ojek. Bahkan beberapa penumpang pun saling mengafal. Beberapa orang
menghafalku, tapi entah kenapa aku susah untuk menghafal mereka, barangkali
karena aku cenderung agak cuek, atau karena wajahku yang terlalu familiar ya?
Itulah seni yang pertama.
Sore itu aku pulang
kuliah, usai presentasi sehingga membawa ransel besar yang isinya netbook.
Tidak biasanya, karena kerja sambil kuliah biasanya hanya membawa tas jinjing
yang tidak tertalu kecil juga tidak terlalu besar. Kali itu angkotnya kosong,
hanya ada aku dan pak supir. Seraya menunggu penumpang yang lain, terjadilah
sebuah percakapan.
“Baru pulang kuliah mbak?”
“Eh, iya pak.”
“Kuliah di UND**?”
“Iya”
“Mbaknya sudah semester berapa?”
“Saya semester 3 pak.”
“Ooo.. Anak saya juga kuliah di UND** jurusan
peternakan. Tiap hari uang setoran selalu saya tabung Rp. 5.000,00 - Rp.
10.000,- untuk kuliah anak saya. Ga makan juga ga apa-apa mbak yang penting
anak saya bisa sekolah. Alhamdulillah kemaren diterima”
“Syukur pak, bapak putranya berapa?”
“Dua mbak, perempuan semua, yang satu
masih SMA. Mbaknya ngambil jurusan apa?”
“Saya peternakan juga pak.”
“Wah...sama seperti anak saya.
Barangkali mbaknya kenal, anak saya namanya Dian Retnowati (haduh aku lupa
namanya, anggap saja itu ya), tapi kok kampusnya diatas ya, mbaknya kok
dibawah?”
“Hehe iya pak, saya kebetulan ambil
S2-nya”.
“Ooo...”
Hehe, dikira aku masih S1, terlalu tua
untuk saya Bapak, ini saja sudah pernah off 2 tahun lebih, masak masih seperti
S1? Tapi sejak itulah beliau menghafal aku, begitu juga denganku.
Suatu
pagi, ketika aku akan berangkat bekerja dan seperti biasa naik angkot, aku
bertemu dengan sang bapak lagi.
“Mbak”, beliau menyapaku. Dan akupun
tersenyum.
“Pagi kuliahnya mbak?”
“Saya kerja kok pak”.
“Ouw, kerja di mana mbak?”
“Di belakang POLDA pak”
“Apa itu mbak?”
“Sekolah pak, aya ngajar kok pak”
“Ouw, mbaknya guru to”
“Iya”
“Wah, ga apa-apa mbak. Jaman sekarang
cari kerjaan yang sesuai susah. Kalau terlalu pilah-pilih nanti malah ga
kerja-kerja.”
“Iya pak”
“Yang penting menjalaninya dengan
ikhlas”
“Iya pak”
Hmm,
memang semuanya harus dijalani dengan ikhlas. Jadi teringat sejarahnya untuk
menjadi pengajar. Sebenarnya tidak ada niatan sama sekali untuk menjadi
pengajar kecuali menjadi dosen. Tapi apadaya aku cuma lulusan S1. Dan ternyata
memang semua sudah diatur oleh yang Maha Kuasa. Ikhlas, itulah kuncinya.
Barangkali kalau aku tidak menjadi pengajar aku juga tidak akan punya
kesempatan untuk belajar S2, atau barangkali aku harus melepaskan salah satu
diantaranya. Pesan orang tua dulu waktu mencari pekerjaan adalah kerja itu
ibadah, jadi lakukan yang terbaik, hasilnya serahkan pada yang memberi rizki,
kareana sebaik-baik penghargaan adalah dariNya.
------*------
Waktu
sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB. Malam itu ada tausiah ustad Yusuf di Gedung
Borobudur. Aku dan ibu berniat untuk menghadirinya. Sebenarnya sedikit
terlambat karena dimulai sebelum maghrib. Dan karena aku sudah hafal dengan
jam-jamnya, maka sengaja datang agak terlambat karena pasti ada keterlambatan
tausiah pula. Hanya karena tidak mau tertinggal sholat isya’ berjamaah kami
agak sedikit terburu-buru.
“Bu, mau naik apa biar cepet sampai?
Kalo naik taxi nanti lama kalo nunggu di jalan. Kalau pesan dulu sama aja lama,
sudah jam segini”.
“Ya sudah, naik angkot saja tapi jangan
yang ngetem”.
“Kalo gitu nunggu angkotnya jalan dikit
jangan di perempatan. Nanti jalan lagi ga apa-apa?”
“Ga apa-apa, kurang lebih cuma 20m aja
kan?”
“Iya”
“Ah sudah terbiasa jalan”
“Ya sudah”
“Itu ada angkot lewat”.
Ehhh, ternyata si bapak yang sudah
saling menghafal.
“Malem-malem mbak?”
“Iya pak”
“Mau kemana?”
“Ke gedung borobudur”
“Ooo...yang tausiah itu ya? Rame mbak,
kok baru berangkat? Saya anter ke gedungnya sekalian aja mbak.”
Alhamdulillah...kebetulan
angkotnya kosong, cuma ada aku sama ibu, langsung tancap dah. Tarif angkutan
kota, fasilitas serasa taxi karena diantar ke tempat tujuan tanpa harus
meminta. Hmm, beginilah seni naik angkot.
-----*-----
Tidak
hanya hal-hal yang serba kebetulan, terkadang para sopir angkot itu justru
menceritakan masalah pribadinya pada penumpang. Entah bermaksud curhat atau
hanya untuk mencari simpati. Walllahu’alam.
Ada
yang menjadi sopir angkot di kotaku karena dia kawin lari. Karena calonnya
tidak mendapat persetujuan dari orang tua dia memilih meninggalkan kotanya
Palembang untuk ke jawa dan akhirnya menjadi sopir angkot. Dalam hati aku
berfikir, pantas penggunaan Bahasa Indonesianya fasih dan tidak bisa berbahasa
jawa walaupun mengerti jika orang lain berbahasa jawa. Mungkin karena sudah
beberapa tahun tinggal di jawa. Ada juga yang merantau dari sunda.
Terkadang
mereka menceritakan bagaimana sepinya penumpang yang lebih memilih naik
kendaraan bermotor ketimbang angkot, menceritakan bagaimana susahnya menutup
setoran, atau saling berbagi jika ada yang mau sewa angkot. Ada juga yang
bercerita tentang jam kerjanya. Ada yang berangkat dini hari, siang pulang
istirahat dan berangkat lagi saat jam-jam orang selesai bekerja. Ternyata mereka
juga punya strategi untuk mendapatkan penumpang. Ada yang menghafal jamnya,
tujuannya, bahkan berusaha untuk ngobrol dan mengenal penumpang hanya untuk
membuat mereka nyaman. Tapi ada juga yang terkesan sedikit licik, tapi mungkin
lebih tepatnya sedikit memprovokasi, dengan memberitahu kepada penumpang untuk
tidak menaiki angkot yang itu karena ngetemnya lama banget, atau karena dia
sering maju mundur dalam mencari penumpang, dan lain-lain. Tapi sebenarnya apa
yang dikatakannya memang benar sih, karena beberapakali menaiki angkot yang
disebutkan itu memang seperti apa yang dikatakannya.
Akhir-akhir
ini aku mendapat satu hafalan lagi tentang sopir angkot, karena sebelumnya
seperti tidak pernah melihatnya. Mungkin karena saat itu aku berangkat kerja agak
kesiangan. Jam-jam yang tidak biasanya. Seperti biasa, hanya dengan ngobrol
basa-basi akhirnya dia menghafalku. Dan karena angkotnya tanpa ngetem alias
cepat, aku putuskan untuk berangkat pada jam-jam itu.
Beberapa
hari aku libur kerja, dia mencariku. Siang itu, masih dalam rangka liburan aku
berangkat siang berniat untuk ke kantor karena terkena jatah piket libur.
“Mbak, kok lama ga lihat?”
“Libur kok pak”, jawabku memberi
penjerlasan singkat.
“Ouw, saya pikir apa mbaknya diantar
pacarnya kok ga pernah naik angkot lagi”
Aku hanya tersenyum.
“Saya tungguin lho mbak, sampai saya
muter dua kali kok mbaknya ga pernah keliatan. Ternyata libur to. Lha ini mau
kemana?”
“Sama pak, ke gergaji”.
“Katanya libur mbak?”
“Iya, cuma hari ini masuknya kok, ada
perlu”.
“Ouw. Tunggu sebentar ya mbak, nungguin
mbaknya yang biasa kerja di swalayan. Ga keburu to?”
“Enggak pak, ga apa-apa”.
Sambil menungggu si bapak berusaha
mencairkan suasana dengan mengajak ngobrol.
“Wah, lagi musim libur sekolah ya mbak. Hari
ini ramai karena pendaftaran sekolah. Mbaknya enak belum punya anak, saya
single parent mbak.”
“Ouw..”
“Anak saya dua mbak, perempuan semua.
Yang satu kelas 4 SD yang satu masih kelas 1 SD. Kalau kakanya pinter mbak,
bisa sekolah di SD negeri, kalau adeknya di swasta mbak, kalau kenaikan kelas
gini harus bayar lagi. Repot mbak jadi single parent, istri saya selingkuh. Sudah
punya anak dua masak ya masih harus saya pertahankan, saya bercerai mbak.”
“Astaghfirullah..”
Percakapan kami
terhenti karena penumpang yang biasa turun di UIN naik ke dalam angkot, dia mahasiswi,
tapi tidak pernah tersenyum ketika diajak ngobrol, sampai-sampai ketika dia
turun supirnya berkata, “Mbaknya itu besok galak”, mungkin maksudnya kalau
sudah menikah dia galak pada suaminya atau pada anak-anaknya. Karena sudah
ditunggu sekitar 5 menit tidak kunjung muncul penumpang yang diharapkan, angkot
itu langsung berjalan. Dia mengutamakan service untuk penumpang yang ada di
angkotnya, yaitu kecepatan.
Hari
itu aku seperti mendapat pelajaran berharga, yaitu rasa syukur. Kalau Dia
menghendaki kebaikan kepada kita pasti Dia akan mendekatkan kita pada hal-hal
yang baik. Dan aku bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang baik. Bayangkan
saja, bagaimana upaya mereka dalam mempertahankan iman dan takwa apabila
kehidupan mereka dekat dengan hal-hal yang dibenci Tuhan. Mabuk,
perselingkuhan, judi, barangkali cukup dekat dengan kehidupan mereka walau
tidak semuanya demikian. Hidup di jalanan, yang terkadang hanya untuk
mempertahankan shalat 5 waktu saja susah. Jangankan shalat, hanya sekedar wudhu
saja mungkin tidak pernah dilakukan. Kadang-kadang bahkan aku sampai berfikir,
ni orang pernah mandi atau mencuci rambutnya ga ya? Kenapa tidak ada cahaya
sama sekali di wajahnya? Terimakasih Ya Rabb, dekatkan kami selalu pada
kebaikan, karena yang dekat dengan penjual parfum pasti akan ikut tercium
harumnya.