Populer

Sabtu, 17 Desember 2011

HIJAU


PRAY

Doa merupakan salah satu cara kita berkomunikasi kepada Tuhan. Barangkali lebih tepatnya adalah sebuah penyampaian akan semua permintaan kita kepada Tuhan.
Tapi pernahkah kita berfikir apa saja yang telah kita pintakan kepada Tuhan?
            Umumnya manusia itu berdoa untuk meminta dipanjangkan umurnya, ditambah rizkinya, diberi kesehatan, dimudahkan urusannya dan lain-lain, dan tahukah kita? Bahwa semua itu sifatnya duniawi. Kadang-kadang memang tidak terfikir untuk meminta umur yang dirahmati, harta yang berkah, ilmu yang mermanfaat, minta dijadikan orang yang selalu bisa bersyukur dalam keadaan apapun, dan lain-lain. Tuhan tidak akan mencelakakan hambanya, tanpa diminta pun bahkan Dia telah memberi apa yang kita butuhkan.
            Manusia kadang terlalu banyak mengeluh, terlebih kalau doanya belum dikabulkan atau ditunda. Tidak berfikir bahwa saat ini ada yang lebih kita butuhkan lebih dari apa yang sedang kita pintakan. Atau barangkali juga penundaan terkabulnya doa itu sebagai suatu cara untuk membaikkan diri kita, karena Dia mungkin akan memberikan yang lebih untuk kita nanti sehingga kita harus mempersiapkan diri untuk menerima yang lebih itu.
            Wallahu’alam bi syahwab, semoga Dia selalu menjadikan kita orang yang selalu mau untuk memperbaiki diri, selalu bersyukur dalam keadaan apapun dan senantiasa mendekatkan kita kepada kebaikan. Amin.

Sabtu, 03 Desember 2011

DOA YANG NAKAL



(17:30)
            Hari ini aku pulang sore lagi. Ketika aku melangkahkan kaki keluar dari kantor untuk beranjak pulang, kulihat mendung bergelayut di daerah timur, daerah rumahku. Gelap, tapi tak tertebak apakah sudah turun hujan atau belum. Biasanya aku bertanya sama orang rumah memastikan apakah sudah turun hujan atau belum, baru beranjak pulang. Tapi karena penjemput tersayang sedang berhalangan, dengan basmalah kulangkahkan kaki untuk pulang dengan harapan semoga belum hujan disana.
            Belum ada 100 meter melangkah rintik hujan mulai turun. “Allah, semoga hanya rintik air ini yang mengiringiku sampai ke rumah”, pintaku dalam hati. Setengah perjalan, kuperhatikan kaca mobil angkutan kota yang aku tumpangi semakin tertutup titik-titik air, lama-lama semakin pekat, jalanan semakin basah. “Waduh, gawat nih kalau hujan, bakalan hujan-hujanan kalau naik ojek nanti”, batinku. Dalam perjalanan itu aku pun berdoa: “Allah, ijinkan aku pulang dalam keadaan kering. Aku ga ingin sakit. Kalau aku sakit dan ijin tidak masuk  besok bagaimana aku bisa mnyelesaikan materi? Lalu bagaimana dengan anak-anak? Padahal jadwalku besok full. Allah, jangan hujan ya....biarkan aku pulang dalam keadaan kering dan sehat. Amin”
            Mendekati pangkalan ojek belum ada tanda-tanda hujan akan reda, sementara adzan maghrib sudah berkumandang. Kalau aku nekad akan basah kuyup, lalu kuputuskan untuk berteduh dulu di sana, di pangkalan ojek. Kalau hujan belum reda juga, apa boleh buat aku nekad, itu keputusanku, karena waktu maghrib itu pendek.
“Kiri Pak”. Transaksi kulakukan di dalam angkot dan aku berlari ke tempat yang teduh.  Ada dua laki-laki yang berteduh bersamaku. Dalam hati aku berfikir, kenapa mereka berteduh? Biasanya kalau cowok itu akan nekad hujan-hujanan apalagi tidak terlalu deras walaupun cukup membuat orang untuk basah kuyup. Tapi kubiarkan saja mereka, barangkali memang tidak ingin basah.
Waktu menunjukkan pukul 17.50. Hujan sedikit reda. Dua laki-laki itu memutuskan untuk beranjak dan meneruskan perjalanan. Mereka menenteng dua kresek besar berisi makanan. Ouw....ternyata mereka berteduh karena ingin menyelamatkan barang bawaannya, pikirku. Kuperhatikan lagi jalanan, sepertinya sudah reda. Aku mencoba menengadahkan tanganku ke langit, tidak ada air yang menetes ke telapak tanganku, sudah reda, padahal belum ada 5 menit aku berteduh. Aku pun meminta tukang ojek untuk mengantarkanku ke rumah. Subhanallah, aku dapat ojek yang motornya ditutup jas hujan waktu hujan tadi, jadi jok motornya kering. Ketika dijalan pun, meski banyak air tergenang tak ada yang terciprat ke celana ataupun sepatuku. Aku pulang benar-benar dalam keadaan kering. Hanya setetes air yang membasahi kerudungku saat lewat di bawah pepohonan tadi. Alhamdulillah....
Dalam perjalanan dengan ojek  itu aku bercakap-cakap dengan Tuhan-ku. “Allah, biarkan langit terang terus, jangan hujan lagi sampai bapak ojek yang mengantarkanku kembali ke pangkalanya ya..”. Ketika melihat bapak-bapak berjalan ke mushola, aku bicara lagi “Allah, bagaimana kalau hujannya diturunkan saja ketika yang berjamaah di mushola itu sudah pulang? Biar ga kehujanan karena mereka rata-rata tidak membawa payung.  Emmmm, bagaimana kalau hujannya diturunkan lagi saat aku sampai rumah dan pak ojeknya sampai pangkalan, sementara yang dimushola biarkan saja berteduh disana sampai isyak, biar dzikir dan biar bisa jamaah lagi baru hujannya Engkau turunkan lagi? Xixi, aku enak-enak di rumah nyuruh-nyuruh orang ibadah. Eh, tapi kalau habis isya hujan lagi, suasananya enak buat tidur, lalu bagaimana dengan pekerjaanku? Apa kubiarkan saja ya? Ikutan tidur, kan masih ada waktu. Tapi kalau ga dicicil gimana nih? Untuk memperpanjang waktu kan harus mensegerakan. Allah, terserah Engkau sajalah gimana baiknya”.
Dan sampai tulisan ini kutulis (20:52), hujan tidak turun lagi. Barangkali memang aku disuruh untuk segera menyelesaikan pekerjaanku ya. Atau barangkali aku disuruh untuk menulis cerita lagi, karena dari kemaren memang pengen nulis cuma ga tau apa yang mesti ditulis. Atau barangkali memang tidak boleh tidur lebih awal, karena beberapa hari ini mataku sudah terpejam saat jam seperti ini. Atau karena doaku tadi cuma iseng sehingga tidak dikabulkan? Atau.......... Ya ‘Alim, hanya Engkau yang tau kenapa hujan tidak turun lagi.

NB: ditulis hanya karena iseng diantara ke-stres-an yang menumpuk :D