Populer

Sabtu, 28 Januari 2012

BIRU


ANTARA SABAR DAN SYUKUR

“Lebih berat mana antara SABAR dan SYUKUR ??”. Pertanyaan itu muncul dari seorang teman kala menghadapi masalah. Sempat berfikir untuk beberapa detik, lalu aku menjawab lebih berat syukur. Dia bilang jawabanku tepat, dengan alasan tidak semua orang saat mendapat musibah bisa tetap bersyukur.
Sabar dan syukur merupakan dua kata yang berbeda dengan kekuatan yang sama besar. Hanya saja, penggunaannya sering dibedakan oleh orang karena situasi yang ada.
Sabar, cenderung dipakai untuk memotivasi atau memberikan kekuatan pada diri seseorang ketika menghadapi masalah atau suatu musibah. Sementara Syukur, seringkali dikaitkan dengan kegembiraan dan kesenangan seseorang. Seringkali kita melupakan kata syukur dalam suatu musibah atau justru sabar dalam kegembiraan. “Lho kok?” Mungkin pertanyaan itu yang akan muncul.
            Masalah atau musibah, merupakan hal yang tidak kita inginkan yang sengaja diberikan oleh Tuhan untuk menguji bahkan meningkatkan derajat kita. Mengeluh, adalah kebiasaan yang sering dilakukan oleh manusia ketika dia mendapatkan apa yang dia tidak inginkan. Menurut saya itu adalah hal wajar, karena manusia memiliki apa yang namanya nafsu, yang selalu menginginkan kesenangan tanpa peduli apakah itu baik atau buruk untuk dirinya, yang penting sesuai, senang. Dan wajar ketika Tuhan memberi apa yang tidak kita inginkan maka yang muncul adalah keluhan, keluhan, dan keluhan.  Menjadi tidak wajar ketika keluhan-keluhan itu kemudian menutup sisi baik kita. Sedikit tingkatan ketika seseorang telah naik derajat, yang dilakukannya adalah bersabar atas apa yang dia tidak inginkan.
            Bersabar membuat seseorang merasa lebih kuat. Terkadang kita berfikir, “memang sudah takdirnya”, pasrah. Dalam kesabaran yang tidak berbatas itulah orang sering membatasi kesabarannya sendiri yang lalu lambat laun muncul emosi, rasa putus asa dan sebagainya. Padahal jelas-jelas Dia tidak akan menguji hambanya melebihi dari kemampuannya. Kalau yang dirasa semakin berat, kenapa dalam kesedihan, masalah dan musibah yang kita hadapi kita tidak BERSYUKUR bahwa Tuhan sebenarnya telah meningkatkan derajat kita. Semakin tinggi derajat seseorang semakin berat pula ujiannya. Bukankah tidak mungkin pada ujian nasional untuk SMU yang diberikan justru soal-soal untuk SD ?!
            Seringkali kita melupakan rasa syukur dalam kesedihan kita. Lupa, bahwa sebenarnya Tuhan sayang kepada kita dan menginginkan kita untuk naik satu tingkat dan lebih dekat dengannya. Lupa, bahwa apa yang menurut kita baik belum tentu baik menurutNYA, dan bahwa apa yang buruk menurut kita belum tentu buruk menurutNYA. Lupa, untuk sedikit saja menyelipkan rasa syukur yang akan meruntuhkan benteng-benteng yang kita bangun yang akan membatasi  kesabaran kita.
            Sama halnya ketika kita dalam keadaan senang, seringkali kita melupakan kesabaran kita.  Kita merasa dekat denganNYA  ketika bersedih, ketika apa yang kita inginkan belum kita dapatkan. Namun, ketika Dia mengabulkan permintaan-permintaan kita, masih adakah kesabaran itu? Bersyukur, tentu saja kita lakukan. Tapi dalam kebersyukuran itu masih adakah kesabaran? Seringkali kita justru mengurangi kesabaran kita (baca: intensitas hubungan kita denganNYA) setelah kita mendapat apa yang diinginkan. Itukah yang namanya syukur? Bukankah seharusnya ketika berterimakasih sebagai tanda syukur kita sebisa mungkin memberikan yang lebih?

Jadi teringat pernyataan “jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu”. Kenapa kata sabar didahulukan daripada “sholat” , karena “sholat” itu sebagai tanda syukur atas segala karuniaNYA. Semoga kita bisa belajar untuk lebih berSYUKUR dan berSABAR. Bukankan Dia akan menambahkan nikmatnya bagi orang-orang yang bersyukur?