ANTARA SABAR DAN SYUKUR
“Lebih berat mana antara SABAR dan SYUKUR ??”. Pertanyaan itu muncul dari seorang teman kala menghadapi masalah.
Sempat berfikir untuk beberapa detik, lalu aku menjawab lebih berat syukur. Dia
bilang jawabanku tepat, dengan alasan tidak semua orang saat mendapat musibah
bisa tetap bersyukur.
Sabar dan syukur merupakan dua kata yang
berbeda dengan kekuatan yang sama besar. Hanya saja, penggunaannya sering
dibedakan oleh orang karena situasi yang ada.
Sabar, cenderung dipakai untuk memotivasi atau memberikan kekuatan
pada diri seseorang ketika menghadapi masalah atau suatu musibah. Sementara
Syukur, seringkali dikaitkan dengan kegembiraan dan kesenangan seseorang. Seringkali
kita melupakan kata syukur dalam suatu musibah atau justru sabar dalam
kegembiraan. “Lho kok?” Mungkin pertanyaan itu yang akan muncul.
Masalah atau
musibah, merupakan hal yang tidak kita inginkan yang sengaja diberikan oleh
Tuhan untuk menguji bahkan meningkatkan derajat kita. Mengeluh, adalah
kebiasaan yang sering dilakukan oleh manusia ketika dia mendapatkan apa yang
dia tidak inginkan. Menurut saya itu adalah hal wajar, karena manusia memiliki
apa yang namanya nafsu, yang selalu menginginkan kesenangan tanpa peduli apakah
itu baik atau buruk untuk dirinya, yang penting sesuai, senang. Dan wajar
ketika Tuhan memberi apa yang tidak kita inginkan maka yang muncul adalah
keluhan, keluhan, dan keluhan. Menjadi
tidak wajar ketika keluhan-keluhan itu kemudian menutup sisi baik kita. Sedikit
tingkatan ketika seseorang telah naik derajat, yang dilakukannya adalah
bersabar atas apa yang dia tidak inginkan.
Bersabar membuat
seseorang merasa lebih kuat. Terkadang kita berfikir, “memang sudah takdirnya”,
pasrah. Dalam kesabaran yang tidak berbatas itulah orang sering membatasi
kesabarannya sendiri yang lalu lambat laun muncul emosi, rasa putus asa dan
sebagainya. Padahal jelas-jelas Dia tidak akan menguji hambanya melebihi dari
kemampuannya. Kalau yang dirasa semakin berat, kenapa dalam kesedihan, masalah
dan musibah yang kita hadapi kita tidak BERSYUKUR bahwa Tuhan sebenarnya telah
meningkatkan derajat kita. Semakin tinggi derajat seseorang semakin berat pula
ujiannya. Bukankah tidak mungkin pada ujian nasional untuk SMU yang diberikan
justru soal-soal untuk SD ?!
Seringkali kita
melupakan rasa syukur dalam kesedihan kita. Lupa, bahwa sebenarnya Tuhan sayang
kepada kita dan menginginkan kita untuk naik satu tingkat dan lebih dekat
dengannya. Lupa, bahwa apa yang menurut kita baik belum tentu baik menurutNYA,
dan bahwa apa yang buruk menurut kita belum tentu buruk menurutNYA. Lupa, untuk
sedikit saja menyelipkan rasa syukur yang akan meruntuhkan benteng-benteng yang
kita bangun yang akan membatasi
kesabaran kita.
Sama halnya
ketika kita dalam keadaan senang, seringkali kita melupakan kesabaran kita. Kita merasa dekat denganNYA ketika bersedih, ketika apa yang kita
inginkan belum kita dapatkan. Namun, ketika Dia mengabulkan
permintaan-permintaan kita, masih adakah kesabaran itu? Bersyukur, tentu saja
kita lakukan. Tapi dalam kebersyukuran itu masih adakah kesabaran? Seringkali
kita justru mengurangi kesabaran kita (baca: intensitas hubungan kita
denganNYA) setelah kita mendapat apa yang diinginkan. Itukah yang namanya
syukur? Bukankah seharusnya ketika berterimakasih sebagai tanda syukur kita
sebisa mungkin memberikan yang lebih?
Jadi teringat pernyataan “jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu”. Kenapa kata sabar
didahulukan daripada “sholat” , karena “sholat” itu sebagai tanda syukur atas
segala karuniaNYA. Semoga kita bisa belajar untuk lebih berSYUKUR dan berSABAR.
Bukankan Dia akan menambahkan nikmatnya bagi orang-orang yang bersyukur?